
PADANG – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen mempercepat penanganan dampak bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat (Sumbar). Tercatat 462 sekolah mengalami kerusakan dan memerlukan langkah rehabilitasi segera demi menjaga keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
Hal ini disampaikan Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Didik Suhardi, dalam Rapat Koordinasi Percepatan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Terdampak Bencana di Padang, Rabu (21/1/2026).
“Meskipun dampak di Sumbar relatif lebih ringan dibandingkan Aceh dan Sumatera Utara, kerusakan infrastruktur pendidikan tetap signifikan. Kementerian telah melakukan tinjauan langsung ke titik-titik terdampak seperti Kabupaten Agam, Padang Pariaman, Pariaman, dan Solok,” kata Didik dalam arahannya.
Menurut Didik, Kemendikdasmen akan terus memberikan dukungan maksimal. Pada tahap darurat, fokus penanganan meliputi pembersihan lingkungan sekolah, pemenuhan buku dan perabot, serta perbaikan sarana dan prasarana yang rusak berat.
Berdasarkan data sementara, kebutuhan rehabilitasi ringan meliputi 126 ruang PAUD, 188 ruang SD, 60 ruang SMP, 23 ruang SMA, 2 ruang SMK, 8 ruang SLB, dan 2 PKBM. Sementara itu, rehabilitasi sedang mencakup 46 ruang, dengan rincian 117 ruang SD, 40 ruang SMP, 18 ruang SMA, 5 ruang SMK, dan 6 ruang SLB.
Seluruh kebutuhan rehabilitasi tersebut masih memerlukan data lengkap, termasuk dokumentasi foto, tingkat kerusakan, dan hasil verifikasi lapangan. Setelah proses verifikasi selesai, bantuan dana akan langsung diberikan kepada sekolah agar perbaikan dapat segera dilaksanakan.
“Rehabilitasi ringan diperkirakan selesai dalam waktu satu hingga dua bulan. Sementara rehabilitasi sedang mencakup perbaikan lantai, jendela, serta elemen nonstruktural bangunan,” ungkap Didik.
Didik berharap diskusi dan klarifikasi data dapat segera dilakukan agar proses rehabilitasi berjalan lancar. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan yang optimal.
Pengalaman selama pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa kehilangan waktu belajar berdampak besar terhadap kualitas pendidikan. Oleh karena itu, kondisi serupa diharapkan tidak terulang akibat bencana alam.
“Pemerintah juga menekankan pentingnya menyediakan lingkungan belajar yang aman dan layak bagi peserta didik sebagai bagian dari persiapan generasi penerus Indonesia menuju tahun 2045,” tutup Didik.

