
AIR bah datang tanpa kompromi. Dalam hitungan jam, banjir meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Sumatera Barat (Sumbar), menyisakan puing, lumpur, dan duka. Di antara bangunan yang hancur adalah sekolah, ruang tempat harapan dan masa depan dirajut, lenyap tanpa jejak. Musibah ini bukan hanya tentang rusaknya infrastruktur.
Arfa Tazik masih mengingat jelas bencana banjir hari itu. Hujan turun sejak pagi, ketika air sungai meluap dan perlahan menggerus jalan serta bangunan di sekitar tempat tinggalnya di Batang Kabung, Sumatera Barat. Tak lama kemudian, kabar yang paling membuat dadanya sesak datang, yakni sekolahnya hanyut.
“Ya rasanya sedih. Melihat sekolah hanyut dibawa arus air. Barang-barang kayak bekas-bekas untuk belajar, semuanya ikut hanyut,” kata Arfa, murid kelas 6 SDN 49 Batang Kabung, Koto Tangah, Kota Padang.
Banjir tak hanya merenggut bangunan sekolah. Buku pelajaran, perlengkapan ujian, hingga sepatu yang ia tinggalkan di kelas ikut hilang. Padahal, Arfa dan teman-temannya tengah bersiap menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), ujian penting untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.
Di usia yang masih belia, Arfa harus berhadapan dengan kehilangan yang datang bersamaan, yakni sekolah, perlengkapan belajar, dan rasa aman. Ketika banjir datang, perasaan takut lebih dulu menyergap, tak hanya pada sekolah, tetapi juga rumah.
Awalnya, Arfa merasa takut rumahnya juga kebanjiran. Apalagi, jalan di sekitar rumahnya sudah terkikis air. Beruntung, ia dan keluarganya masih memiliki tempat berlindung, meski rasa sedih tak mudah dihapus.
Kini, Arfa hanya bisa membayangkan masa depan sekolahnya. Jika suatu hari nanti sekolah baru dibangun, ia sudah punya harapan sederhana namun tegas. “Aku pengen sekolahnya bagus, bertingkat, ada lapangan buat olahraga dan upacara. Sekarang itu semua enggak ada lagi,” paparnya.
Titik Tolak Membangun Kembali
Di tengah berbagai keterbatasan, semangat untuk bangkit justru menemukan bentuknya. Seorang pendidik yang terdampak banjir memilih memaknai peristiwa ini sebagai pelajaran besar. Tersimpan harapan agar musibah ini menjadi titik tolak membangun kembali, bukan hanya gedung sekolah, tetapi juga sistem dan semangat pembelajaran.
“Kami berharap gedung sekolah bisa segera dibangun kembali, sehingga pembelajaran, jadwal, dan teknis satuan pendidikan dapat berjalan normal seperti sediakala,” kata Elsi Harisa, Kepala Sekolah SDN 49 Batang Kabung, Kota Tangah, Padang.
Usai diterjang banjir bandang, kondisi sekolah sungguh memprihatinkan. Tak satu pun bangunan tersisa. Banjir bukan hanya merobohkan dinding, tetapi juga menghapus tapak tanah tempat sekolah itu berdiri.
Meski demikian, para guru menolak tenggelam dalam keputusasaan. Mereka saling menguatkan, saling mengingatkan bahwa peran pendidik tak berhenti pada keberadaan gedung. Dalam keterbatasan, mereka tetap berkomitmen menjalankan tugas dan fungsi sebaik mungkin yakni mendidik, membimbing, dan menjaga asa.
“Kami tetap berupaya semaksimal mungkin melaksanakan tugas pokok dan fungsi dengan sebaik-baiknya. Intinya bangkit, tetap semangat, dan bersama-sama kita pasti bisa melalui semua ini,” tuturnya.
Upaya membangkitkan semangat belajar juga diarahkan kepada para siswa, mereka yang paling rentan kehilangan harapan. Para guru berusaha menanamkan optimisme agar anak-anak tidak larut dalam kesedihan akibat kehilangan rumah dan sekolah sekaligus.
“Mungkin rumah kita hilang, sekolah kita hilang. Tapi kita harus tetap semangat belajar dan mengejar cita-cita. Pasti akan ada jalan terbaik untuk meraih itu semua,” katanya, memberi penguatan.
Komitmen Penuh Kemendikdasmen
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen mempercepat penanganan dampak bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat (Sumbar). Tercatat 462 sekolah mengalami kerusakan dan memerlukan langkah rehabilitasi segera demi menjaga keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
Hal ini disampaikan Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Didik Suhardi, dalam Rapat Koordinasi Percepatan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Terdampak Bencana di Padang, Rabu (21/1/2026).
“Meskipun dampak di Sumbar relatif lebih ringan dibandingkan Aceh dan Sumatera Utara, kerusakan infrastruktur pendidikan tetap signifikan. Kementerian telah melakukan tinjauan langsung ke titik-titik terdampak seperti Kabupaten Agam, Padang Pariaman, Pariaman, dan Solok,” kata Didik dalam arahannya.
Menurut Didik, Kemendikdasmen akan terus memberikan dukungan maksimal. Pada tahap darurat, fokus penanganan meliputi pembersihan lingkungan sekolah, pemenuhan buku dan perabot, serta perbaikan sarana dan prasarana yang rusak berat.
Berdasarkan data sementara, kebutuhan rehabilitasi ringan meliputi 126 ruang PAUD, 188 ruang SD, 60 ruang SMP, 23 ruang SMA, 2 ruang SMK, 8 ruang SLB, dan 2 PKBM. Sementara itu, rehabilitasi sedang mencakup 46 ruang, dengan rincian 117 ruang SD, 40 ruang SMP, 18 ruang SMA, 5 ruang SMK, dan 6 ruang SLB.

